Tapi
bagi saya, di balik perantauan yang katanya keren dan asyik ini ada banyak
cobaan yang harus dihadapi. Cobaan yang kadang membuat saya iri dengan orang
yang bisa tinggal di kota yang sama dengan orang tua, dan kadang ada rasa ingin
mengakhiri perantauan dan kembali ke orang tua. Mungkin berbeda dengan
mahasiswa yang memang sangat dimanjakan dengan uang yang selalu lebih, cobaan
ini sangat kecil dirasakan. Tapi bagi saya yang berasal dari keluarga sederhana, beberapa cobaan ini sangat sewaktu-waktu saya rasakan. Dengan jarak antara rumah dan universitas yang sangat jauh tentu saja membuat cobaan ini sangat terasa.
- Uang pas- pas an
Uang pas- pas an jadi cobaan yang
sering muncul setiap waktu. Biasanya ini terjadi di pertengahan sampai akhir
bulan. Kalau tinggal dengan orang tua, kita sedikit tak perlu khawatir soal
materi. Tapi kalau di perantauan, awal bulan sudah menjadi gaya hidup yang
mirip OKB (Orang Kaya Baru).
Tapi apapun sebabnya, kondisi
uang pas-pas an menjadi pelajaran yang baik untuk mengatur pengeluaran. Tidak
berbelanja berlebihan, memilih makanan yang sehat tapi harga terjangkau, mengatur
dan memilah kegiatan nongkrong/jalan dengan teman-teman.
Bagi saya, merantau dapat
memunculkan rasa sungkan untuk terus meminta kepada orangtua.
2. Sakit
Tinggal di
sepetak kamar kos membuat saya paham makna sendiri saat di sekitar sebenarnya
ada orang lain. Dan itu benar-benar terasa saat kondisi tubuh mendadak drop.
Kalau di rumah biasanya ada ibu,ayah,nenek yang merawat dan menjaga, sementara
di kos, saya harus menyiapkan makan sendiri, sampai berobat pun kadang pergi
sendiri saat teman sedang sibuk dengan urusannya.
Tinggal di
kota orang membuat saya harus berusaha
supaya tidak terjatuh sakit dan merepotkan orang lain yang belum tentu
dikenal. Cobaan ini sangat tidak mudah, tapi juga tidak lagi sulit ketika saya
terbiasa.
Saat-saat seperti
ini membuat saya selalu meyakinkan diri
untuk tetap kuat.
3. Mendadak lingkungan menjadi kurang nyaman
Ketika
merantau, tak ada lagi kehadiran keluarga yang merupakan tempat paling nyaman
dan aman sampai kapanpun. Di perantauan, yang ada hanya teman dan selebihnya
orang-orang yang sekedar kenal saja. Teman pun kadang tidak semuanya bisa
diandalkan dan dipercaya.
Saat ada
kejadianburuk yang menimpa orang di sekitarmu membuat saya takut, khawatir dsb,
tapi semua cobaan yang hadir di lingkungan sosial saya ini justru membuat saya
ingat pesan orang tua. Saya harus menjaga ucapan, sikap, serta perilaku dalam
setiap pergaulan. Mawas diri dengan siapapun itu perlu.
Tidak ada
keluarga yang menjagamu saat di perantauan, adalah hal yang selalu mengingatkan
saya untuk berhati-hati dalam pergaulan.
4.
Rasa lelah karena mengerjakan apa-apa sendiri
Merantau jauh
dari keluarga membuat saya melakukan apapun sendiri. Suatu waktu saya lelah
melakukan semua hal sendiri, saking lelahnya saya bisa seharian penuh malas melakukan
apapun. Sampai titik dimana saya ingat kalau saya belum makan dan harus
menyiapkan makanan agar tidak kelaparan. Tapi setidaknya, melakukan apa-apa
sendiri membuat saya punya banyak pengalaman dan mengetahui banyak hal baru.
Rasa lelah itu
manusiawi, tapi seperti inilah cara menempa diri saya jadi pribadi yang
mandiri.
5. Kabar yang kurang baik
Tidak bisa
dibayangkan lagi sedihnya, yang pasti yang bisa dilakukan hanya menenangkan
diri perlahan-lahan dan selalu berdoa yang baik.
Semoga semua akan selalu baik-baik saja dan
selalu dalam lindungan-Nya.
6.
Bangun kesiangan
Cobaan yang
paling berat adalah cobaan yang datang dari dirimu sendiri. Seperti bangun
pagi, di rumah saya jarang khawatir soal bangun pagi karena ibu dan keluarga
yang siap membangunkan. Ada lelucon mengatakan bahwa, alarm terbaik adalah ibu.
Ketika kita meminta dibangunkan jam 7 pagi. Ibu akan membangunkan jam 6 dan
mengatakan bahwa sekarang jam 8 :). Sementara di kos atau asrama, cuma ada alarm hp atau jam yang sering
tidak ampuh.
Dari hal ini,
saya pun dituntut sigap alias mengandalkan alarm dari diri sendiri.
7.
Sendiri dan mendadak rindu orang tua
Sejauh apapun
saya pergi dan semenarik apapun kota rantauan, rumah dan keluarga tetaplah
tempatku berpulang. Sebab, disana aku tidak akan merasa sepi meskipun hanya
dengan keluarga kecil. Di rumah juga saya tidak akan mengkhawatirkan apapun.
Sedangkan di tanah rantau saya harus lebih menyibukkan diri, ikut kegiatan
apapun agar tidak merasa kesepian karena rindu dengan orang tua atau rumah.
Sendiri dan
mendadak rindu orang tua itu lumrah, toh sebenarnya kita Cuma perlu mengatur
kegiatan agat tidak merasa kesepian.
Merantau memang tidak pernah
mudah. Tapi hanya dengan merantau saya bisa belajar banyak hal yang tidak bisa
didapatkan saat saya hanya tinggal di satu kota dengan orang tua dan keluarga.
Dan perjuangan ini juga untuk masa depanku dan untuk mereka yang menyayangiku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar