Hidupku di Kota Orang



     




        Nama saya Febriana Wahyu. Nama panggilannya Febri. Sesuai nama saya, saya lahir bulan Februari 19 tahun yang lalu di Madiun. Saya asli orang Madiun, kota yang sering saya sebut dengan kota kecil banyak kenangan. Pendidikan saya dari tingkat 0 sampai SMA, saya jalani di Madiun. Madiun memang kota kecil, tapi disana tempatku yang sebenarnya, tempat dimana aku kenal dan dikenal banyak orang, dan selalu menjadi tempat yang sangat aku rindukan. Hingga saatnya aku keluar dari kota itu untuk menempuh pendidikan selanjutnya setelah SMA. Saat ini saya tengah berjuang di kota orang sebagai mahasiswa. Saya belajar dan beradaptasi di kota yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan akan menjadi kota sementara saya. Saya memilih Universitas Jember waktu pendaftaran SNMPTN, sangat tidak terbayangkan ketika hari pengumuman tiba, saya bisa diterima sebagai salah satu mahasiswa disini. Jujur, saya milih Unej karena biar aman aja sih hehe. Karena kota sementara yang saya inginkan adalah Solo atau Jogja. Faktor daerah lah yang membuat saya tidak mengisi SNMPTN di Universitas di Jawa Tengah, karena salah satu faktor penentu lolos atau tidaknya siswa diambil dari asal daerah SMA nya. Apalagi saya ngincar nya fakultas yang gede-gede. Udah di luar Jawa Timur terus fakultas yang diambil nilai akreditasinya besar, ini ibaratnya masuk ke lubang buaya yang sampingnya kandang macan. Waktu saya memutuskan mengambil Unej saya nggak mikir macam-macam, yang saya pikirkan adalah momen ketika saya mengucapkan bahwa saya diterima jalur undangan kepada orang tua dan keluarga saya. Ternyata bener, rasa bangga mereka itu melebihi apapun. Setelah itu saya baru mencari informasi tentang Jember, dan saya harus menerima kalau perjalanan dari Madiun ke Jember menggunakan kereta api itu hampir 8 jam, kalau tanggal merah ya nggak seenak jidat mau pulang. Moda transportasi yang saya pilih memang kereta api karena lebih nyaman dan sebanding dengan harga yang ditawrkan. Saya diterima di pilihan pertama saya yaitu fakultas ekonomi program studi manajemen. Status saya selain mahasiswa adalah anak rantau dan anak kos. Kebanyakan orang menganggap anak rantau adalah pribadi yang memiliki karakter kuat. Dan tak sedikit orang merasa kagum saat mengetahui kalau kamu adalah salah satu dari orang-orang yang tinggal jauh dari keluarga. Apalagi beberapa orang ada yang berfikiran hidup jauh dari keluarga memberi kebebasan sepenuhnya, kamu tidak terikat dengan peraturan yang ada di rumah.

       Tapi bagi saya, di balik perantauan yang katanya keren dan asyik ini ada banyak cobaan yang harus dihadapi. Cobaan yang kadang membuat saya iri dengan orang yang bisa tinggal di kota yang sama dengan orang tua, dan kadang ada rasa ingin mengakhiri perantauan dan kembali ke orang tua. Mungkin berbeda dengan mahasiswa yang memang sangat dimanjakan dengan uang yang selalu lebih, cobaan ini sangat kecil dirasakan. Tapi bagi saya yang berasal dari keluarga sederhana, beberapa cobaan ini sangat sewaktu-waktu saya rasakan. Dengan jarak antara rumah dan universitas yang sangat jauh tentu saja membuat cobaan ini sangat terasa.


  1. Uang pas- pas an

Uang pas- pas an jadi cobaan yang sering muncul setiap waktu. Biasanya ini terjadi di pertengahan sampai akhir bulan. Kalau tinggal dengan orang tua, kita sedikit tak perlu khawatir soal materi. Tapi kalau di perantauan, awal bulan sudah menjadi gaya hidup yang mirip OKB (Orang Kaya Baru).
Tapi apapun sebabnya, kondisi uang pas-pas an menjadi pelajaran yang baik untuk mengatur pengeluaran. Tidak berbelanja berlebihan, memilih makanan yang sehat tapi harga terjangkau, mengatur dan memilah kegiatan nongkrong/jalan dengan teman-teman.
Bagi saya, merantau dapat memunculkan rasa sungkan untuk terus meminta kepada orangtua.

    

             2. Sakit

Tinggal di sepetak kamar kos membuat saya paham makna sendiri saat di sekitar sebenarnya ada orang lain. Dan itu benar-benar terasa saat kondisi tubuh mendadak drop. Kalau di rumah biasanya ada ibu,ayah,nenek yang merawat dan menjaga, sementara di kos, saya harus menyiapkan makan sendiri, sampai berobat pun kadang pergi sendiri saat teman sedang sibuk dengan urusannya.
Tinggal di kota orang membuat saya harus berusaha  supaya tidak terjatuh sakit dan merepotkan orang lain yang belum tentu dikenal. Cobaan ini sangat tidak mudah, tapi juga tidak lagi sulit ketika saya terbiasa.
Saat-saat seperti ini  membuat saya selalu meyakinkan diri untuk tetap kuat.



             3.  Mendadak lingkungan menjadi kurang nyaman

Ketika merantau, tak ada lagi kehadiran keluarga yang merupakan tempat paling nyaman dan aman sampai kapanpun. Di perantauan, yang ada hanya teman dan selebihnya orang-orang yang sekedar kenal saja. Teman pun kadang tidak semuanya bisa diandalkan dan dipercaya.
Saat ada kejadianburuk yang menimpa orang di sekitarmu membuat saya takut, khawatir dsb, tapi semua cobaan yang hadir di lingkungan sosial saya ini justru membuat saya ingat pesan orang tua. Saya harus menjaga ucapan, sikap, serta perilaku dalam setiap pergaulan. Mawas diri dengan siapapun itu perlu.
Tidak ada keluarga yang menjagamu saat di perantauan, adalah hal yang selalu mengingatkan saya untuk berhati-hati dalam pergaulan.


                    4.     Rasa lelah karena mengerjakan apa-apa sendiri

Merantau jauh dari keluarga membuat saya melakukan apapun sendiri. Suatu waktu saya lelah melakukan semua hal sendiri, saking lelahnya saya bisa seharian penuh malas melakukan apapun. Sampai titik dimana saya ingat kalau saya belum makan dan harus menyiapkan makanan agar tidak kelaparan. Tapi setidaknya, melakukan apa-apa sendiri membuat saya punya banyak pengalaman dan mengetahui banyak hal baru.
Rasa lelah itu manusiawi, tapi seperti inilah cara menempa diri saya jadi pribadi yang mandiri.



                    5.   Kabar yang kurang baik

Tidak bisa dibayangkan lagi sedihnya, yang pasti yang bisa dilakukan hanya menenangkan diri perlahan-lahan dan selalu berdoa yang baik.
Semoga semua akan selalu baik-baik saja dan selalu dalam lindungan-Nya.



                 6.     Bangun kesiangan

Cobaan yang paling berat adalah cobaan yang datang dari dirimu sendiri. Seperti bangun pagi, di rumah saya jarang khawatir soal bangun pagi karena ibu dan keluarga yang siap membangunkan. Ada lelucon mengatakan bahwa, alarm terbaik adalah ibu. Ketika kita meminta dibangunkan jam 7 pagi. Ibu akan membangunkan jam 6 dan mengatakan bahwa sekarang jam 8 :). Sementara di kos atau asrama, cuma ada alarm hp atau jam yang sering tidak ampuh.
Dari hal ini, saya pun dituntut sigap alias mengandalkan alarm dari diri sendiri.



               7.     Sendiri dan mendadak rindu orang tua

Sejauh apapun saya pergi dan semenarik apapun kota rantauan, rumah dan keluarga tetaplah tempatku berpulang. Sebab, disana aku tidak akan merasa sepi meskipun hanya dengan keluarga kecil. Di rumah juga saya tidak akan mengkhawatirkan apapun. Sedangkan di tanah rantau saya harus lebih menyibukkan diri, ikut kegiatan apapun agar tidak merasa kesepian karena rindu dengan orang tua atau rumah.
Sendiri dan mendadak rindu orang tua itu lumrah, toh sebenarnya kita Cuma perlu mengatur kegiatan agat tidak merasa kesepian.


Merantau memang tidak pernah mudah. Tapi hanya dengan merantau saya bisa belajar banyak hal yang tidak bisa didapatkan saat saya hanya tinggal di satu kota dengan orang tua dan keluarga. Dan perjuangan ini juga untuk masa depanku dan untuk mereka yang menyayangiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram