JUSTICE




Akhir-akhir ini ada pilihan kepala daerah serentak di Indonesia.
Yang sangat menarik perhatian adalah pilkada di Jakarta.
Pilkada Jakarta kali ini adalah pilkada terburuk dan terhitam selama sejarah mencatat.
Banyak manusia menggunakan kesalahan sedikit masing-masing untuk menjatuhkan.
Terparahnya lagi, menjatuhkan atas nama RAS.


Saya berani bilang ini adalah ketidakadilan.
Kenapa?
Indonesia terkenal di dunia dengan keramah tamahan dan kerukunan antar umat beragama.
Bagaimana bisa kerukunan itu sekarang telah dihancurkan dwngan gampangnya.
Turun di jalan dengan mengatasnamakan mayoritas.
Saya rasa, Indonesia tdak mengenal mayoritas dan minoritas yang saling bersaing.
Itu hanyalah tergantung pribadi dan sikap oleh individunya.
Orang yang masih pendek pikirannya, dan tidak mau menerima perubahan akan dengan mudah terprovokasi dan membela yang salah.
Sampai akhirnya, hanya karena emosi dan hasutan, ia rela datang dan berbuat anarkis.

Ya. Saya membicarakan Basuki Tjahaja Purnama.
Beliau dilantik secara sah atas pilihan rakyat dan sah di mata negara.
Tetapi apa kenyataannya, ada yang tidak terima.
Ada ormas yang membuat gubernur tandingan.
Apa gubernur tandingan itu bisa bekerja di balaikota?
Tidak.
Percuma.
Buruk di mata masyarakat? Iya memang.
Itu semua dipelopori oleh emosi dan kebencian.

Bagaimana bisa kerja keras dan pengabdian selama ini membangun Jakarta yang lebih baik dibayar hukuman hanya kerana kepleset omongan.
Dan sudah berkali-kali si orang kepleset lidahnya ini meminta maaf dengan sangat tulus.
Tapi apa dikata, orang-orang yang dengki dan dikuasai kebencian tetapi tidak bisa menerima dan menjalankan aksi berjilid jilid seperti skripsi revisian.

Hukuman yang diterima tidak sebanding dengan apa yang sudak dilakukan.
Sedangkan koruptor?? Yang nyata-nyata nya mengambil uang rakyat hanya dihukum sebtas ecek-ecek.

Hukum Indonesia sangat lemah.
Se lemah orang-orang yang tidak bisa menerima perubahan.

Sudah banyak di Indonesia, orang yang beraih, benar, dipenjarakan dan siperlakukan tidak adil.
Betul kata Antasari Azhar, "Jangan bercita-cita menjadi orang jujur di negeri ini".

Kata kata pokitik itu kotor masuh mendarah daging sampai sekarang.
Terkecuali untuk Jakarta beberapa tahun lalu dibawah pimpinan Pak Jokowi dan Pak Basuki.

Terbukti, hingga sampai saat ini, banyak pendukung yang tak reda semangatnya untuk mendukung dan membela keduanya.
Krearivitas tanpa batas dan tidak mengatasnamakan SARA adalah dukungan yang tak berhenti mengalir.
Banyak suku, ras, dan agama bercampur aduk dalam aksi-aksi yang diperuntukkan oleh pak Basuki untuk kasusnya ini.

Silakan oknum yang tidak suka dan benci boleh memenjarakan purnama.
Tapi tidak dengan cahaya nya.

Walaupun aksi-aksi ini tidak merugikan negara dan orang lain, banyak juga yang masih mencela nya.
Katanya bebas mengemukakan pendapat?
Apa negara ini memang dikuasai sama ketidakadilan?

Saya ingat cerita dari Nelson Mandela.
Nelson Mandela di penjara selama 27 tahun oleh lawan politiknya.
Di dalam penjara, beliau sering disiksa oleh sang sipir. Bahkan beliau pernah digantung dengan kepala terbalik dan dikencingi.
Beliau hanya berkata :
" Tunggu Saatnya ... "
Ketika Mandela keluar dari penjara dan menjadi Presiden Afrika Selatan, hal pertama yang ingin dilakukan adalah menyuruh pengawal nya untuk mencari sipir tersebut.
Pengawal menemukan sipir itu dan membawanya ke hadapan Mandela.
Sipir tersebut tentu sangat ketakutan dan mengira akan disiksa dan dipenjarakan.
Tapi apa?
Mandela hanya mengatakan, "yang aku mau lakukan sebagai presiden hanya ingin mengampunimu".

Nelson Mandela tidak dikuasai oleh kebencian.
Beliau tidak i gin berbalas dendam oleh lawan politiknya dulu yang telah merendahkan dirinya.
Mandela mengajarkan bagaimana kita membalas kejahatan dengan kebaikan.

Mari kita bercermin ke diri kita.
Apa yang akan kita lakukan ketika kita begitu sangat dilukai oleh seseorang?
Dan kini kita mempunyai kesempatan untuk membalas dendam, apa yang akan kita lakukan?
Maukah kita memaafkan dan mengampuninya?
SEBERAPA LUAS DAN LAPANG UKURAN HATI KITA?

Memaafkan memang tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi di masa lalu, namun memaafkan akan melapangkan jalan kita ke masa depan.

Sesungguhnya, ikhlas memaafkan adalah hadiah terbaik yang bisa kita berikan untuk diri kita sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram